Analisis oleh Prof. Dr. Tan Hoang Phuc asal vietnam menegaskan bahwa Revolusi Energi Abad ke-21 telah dimulai, ditandai pergeseran kekuatan ekonomi global dari sektor minyak ke teknologi listrik dan data. Jika abad ke-20 didominasi oleh minyak dan mekanisasi, abad ini didominasi oleh era kecerdasan buatan dan bahan baru.
Batubara pernah menjadi “emas hitam” dan dasar Revolusi Industri, sebelum minyak mengambil alih posisi strategis sejak Perang Dunia I sebagai bahan bakar perang modern. Minyak memiliki kepadatan energi tinggi dan mudah diangkut, yang menjadi prasyarat utama kekuatan nasional di abad ke-20.
Abad ke-21 menyaksikan gelombang Transisi Energi baru, di mana Amazon menjadi pembeli energi terbarukan terbesar di dunia dengan 600 proyek surya dan angin. Tesla menyebarkan sistem penyimpanan energi Megapack, sementara Microsoft dan Google fokus pada aplikasi AI untuk operator smart grid.
Perubahan ini memaksa korporasi minyak besar untuk mengubah peran, beralih dari sekadar produsen bahan bakar menjadi produsen bahan baku dan material sintetis. Dulu minyak adalah ‘bahan bakar’, kini ia mentransformasi diri menjadi ‘bahan baku’ untuk industri bernilai tinggi, seperti carbon fiber dan polimer, katanya.
Proses global ini menghadapi tantangan besar terkait biaya ekstraksi litium dan risiko lingkungan, namun membuka peluang signifikan bagi Vietnam. Negara tersebut memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan dan transportasi hijau untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor.
Transformasi energi tidak hanya masalah teknologi, tetapi soal kemampuan kreatif yang dapat menjadikan Vietnam penghubung penting dalam peta energi baru dunia. Keberhasilan Vietnam mengadopsi tren ini akan menentukan seberapa jauh negara tersebut mampu memanfaatkan momentum Revolusi Energi Abad ke-21.






