Presiden Prancis Emmanuel Macron secara terbuka memberikan respons keras terhadap ancaman tarif impor yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pernyataannya di Forum Ekonomi Dunia yang berlangsung di Davos, Macron menekankan bahwa pendekatan agresif melalui perang dagang adalah langkah yang sama sekali tidak berguna dan merusak tatanan global.
Pernyataan ini muncul sebagai buntut dari ancaman Trump yang berencana mengenakan tarif sebesar 10 hingga 25 persen, bahkan hingga 200 persen untuk produk tertentu, jika negara-negara Eropa menghalangi ambisinya.
Trump secara spesifik menargetkan delapan negara Eropa, termasuk Prancis, terkait isu akuisisi wilayah Greenland dari Denmark.
Emmanuel Macron menyatakan dengan tegas bahwa Prancis lebih memilih rasa hormat daripada tunduk pada gertakan atau intimidasi. Baginya, penumpukan tarif yang tidak berkesudahan adalah sesuatu yang secara fundamental tidak dapat diterima oleh komunitas internasional.
Dunia saat ini, menurut Macron, sedang bergeser menuju tatanan tanpa aturan jika tindakan brutal seperti ini terus dibiarkan tanpa adanya perlawanan yang berarti.
Ia juga menyoroti bahwa penggunaan tarif sebagai alat tekan politik untuk mengganggu kedaulatan teritorial negara lain merupakan preseden buruk dalam diplomasi modern. Kita tidak boleh membiarkan masa depan Eropa ditentukan di Washington atau Moskow, ujar pemimpin Prancis tersebut dengan nada bicara yang sangat serius.
Sentimen ini menunjukkan keinginan kuat Paris untuk menjaga otonomi strategis benua biru di tengah tekanan ekonomi dari Negeri Paman Sam.
Macron memperingatkan bahwa kebijakan proteksionisme yang ekstrem hanya akan membuat ekonomi Amerika Serikat sendiri menjadi lebih lemah dan rakyatnya lebih miskin dalam jangka panjang.
Baginya, tidak ada pemenang dalam perang dagang yang dipicu oleh ego politik atau ambisi perluasan wilayah yang tidak realistis.
Krisis ini semakin memanas setelah Trump secara kontroversial mengunggah tangkapan layar pesan pribadi antara dirinya dan Macron ke media sosial. Tindakan tersebut dianggap sebagai pelanggaran etika diplomasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hubungan transatlantik.
Dalam pesan tersebut, Macron dikabarkan mempertanyakan logika di balik upaya Amerika Serikat untuk mengambil alih kedaulatan wilayah Greenland.
Eropa harus tetap bersatu dan tidak boleh ragu untuk menggunakan mekanisme antikoersi yang mereka miliki jika ancaman tarif benar-benar dilaksanakan pada Februari mendatang.
Prancis, yang saat ini memegang kursi kepemimpinan G7, berencana memanfaatkan posisi tersebut untuk menggalang dukungan internasional melawan kebijakan unilateral Gedung Putih.
Macron juga menyerukan agar para pengusaha di Eropa tetap tenang namun waspada terhadap fluktuasi pasar yang mungkin terjadi akibat ketegangan ini.
Beberapa produk ikonik Prancis seperti anggur (wine) dan sampanye menjadi incaran utama tarif 200 persen yang diancamkan oleh Donald Trump. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran besar di sektor industri minuman mewah yang merupakan salah satu tulang punggung ekspor Prancis ke Amerika.
Meskipun Trump seringkali memuji kepribadian Macron secara personal, kebijakan ekonominya justru menunjukkan serangan langsung terhadap kepentingan ekonomi Prancis.
Dinamika antara kedua pemimpin ini semakin rumit dengan adanya inisiatif Dewan Perdamaian Gaza yang digagas Trump, di mana Prancis enggan untuk bergabung karena dianggap bisa mengganggu peran PBB.
Trump menggunakan ancaman tarif ini sebagai daya tawar agar negara-negara besar di Eropa mau mengikuti agenda politik luar negerinya yang baru. Namun, tanggapan Macron di Davos memberikan sinyal jelas bahwa Paris tidak akan mudah digertak meskipun risiko ekonomi yang dihadapi sangat besar.
Kedaulatan Eropa dan hukum internasional adalah harga mati yang tidak bisa ditukarkan dengan kemudahan akses pasar dagang semata.
Ia juga mengingatkan bahwa kedaulatan nasional Denmark atas Greenland harus tetap dihormati sepenuhnya oleh pihak mana pun, termasuk sekutu terdekat mereka.
Transisi menuju ekonomi global yang lebih stabil memerlukan dialog yang jujur dan solusi praktis, bukan melalui paksaan atau kekuasaan pihak yang terkuat. Pemerintah Prancis kini sedang berkoordinasi dengan Komisi Eropa di Brussels untuk menyiapkan daftar balasan jika tarif Amerika Serikat resmi diberlakukan sesuai jadwal. Langkah balasan ini kemungkinan besar akan menyasar produk-produk manufaktur dan komoditas pertanian unggulan dari negara bagian yang menjadi basis pendukung Trump.
Pertarungan narasi ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga batas waktu penerapan tarif yang ditetapkan pada awal bulan depan.
Dunia kini menanti apakah ketegangan ini akan mereda melalui meja perundingan atau justru meledak menjadi perang dagang yang melumpuhkan ekonomi global.
Satu hal yang pasti, Emmanuel Macron telah memposisikan dirinya sebagai tameng utama Eropa dalam menghadapi tekanan ekonomi dari pemerintahan kedua Donald Trump.






