Permasalahan sampah di Kota Bandung mendapatkan angin segar melalui intervensi teknologi dan akademisi. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, dalam kunjungannya ke Balai Kota Bandung pada Rabu, 25 Februari 2026, berkomitmen mengerahkan kekuatan kampus untuk menuntaskan krisis sampah perkotaan.
Melalui skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, ribuan mahasiswa akan diterjunkan untuk melakukan pemetaan infrastruktur seperti kebutuhan komposting, maggotisasi, hingga biodigester di level kewilayahan. Strategi ini dinilai lebih efisien secara anggaran karena memanfaatkan pendanaan pusat, sehingga tidak membebani APBD Kota Bandung, sekaligus menghindari biaya tinggi pembangunan fasilitas waste-to-energy yang mencapai triliunan rupiah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyambut baik kolaborasi ini mengingat timbulan sampah kota saat ini telah menyentuh angka 1.507,85 ton per hari. Data menunjukkan bahwa 60 persen sampah berasal dari sektor rumah tangga, namun hanya sekitar 21,63 persen yang benar-benar terkelola dan terpilah. Farhan menekankan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada teknologi, melainkan pada perubahan pola pikir masyarakat.
Upaya penanganan dari hulu diperkuat melalui peluncuran program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah), di mana 1.597 petugas direkrut untuk mengedukasi warga secara door-to-door dan mengumpulkan minimal 25 kilogram sampah organik per RW setiap harinya.
Inovasi pengelolaan ini diintegrasikan ke dalam ekosistem “Sirkular Bandung Utama”, yang menghubungkan program Kang Pisman, Buruan Sae (pertanian perkotaan), dan Dapur Sehat.
Dalam sistem ini, sampah organik yang diolah menjadi kompos atau maggot digunakan untuk mendukung urban farming, yang hasilnya kemudian dikonsumsi warga untuk mengatasi stunting.
Dengan pengawasan ketat dari unsur TNI-Polri di sektor komersial (Horeka) dan penggunaan dashboard digital untuk memantau kinerja wilayah, Bandung diproyeksikan menjadi panggung percontohan nasional. Target ambisiusnya adalah menurunkan produksi sampah individu dari 0,58 kg menjadi di bawah 0,4 kg per hari, membuktikan bahwa rekayasa sosial dan sains adalah kunci utama keberlanjutan lingkungan.






