Teror macan tutul kembali menghantui warga Kabupaten Kuningan. Kali ini, tujuh ekor domba milik seorang peternak di Desa Pakapasan Girang, Kecamatan Hantara, ditemukan mati dengan luka gigitan di leher yang diduga kuat akibat serangan hewan buas tersebut, Sabtu (4/10/2025).
Peristiwa ini menambah panjang daftar serangan macan tutul di wilayah pegunungan Kuningan dalam beberapa bulan terakhir. Total sudah 49 ekor domba dan kambing dilaporkan mati dimangsa predator, termasuk tujuh ekor yang baru saja ditemukan.
Kepala Desa Pakapasan Girang, Sudarman, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengungkapkan bahwa serangan hewan liar yang diduga macan tutul itu sudah terjadi tiga kali di desanya. “Insiden ini di luar dugaan, karena baru saja terjadi serangan di Desa Tundagan, empat ekor kambing dimangsa, lalu malam berikutnya giliran di Pakapasan Girang,” ujarnya.
Menurut Sudarman, serangan macan tutul semakin sering terjadi dalam waktu berdekatan. Warga pun menjadi resah, terutama para peternak yang khawatir hewan peliharaannya kembali diserang. “Tercatat sudah 19 ekor domba di desa kami yang dimangsa macan tutul,” tambahnya.
Pemerintah desa telah melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang, termasuk Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Camat Hantara, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta instansi terkait lainnya.
Sudarman berharap pemerintah segera turun tangan memberikan bantuan nyata kepada para peternak yang terdampak. “Kami mengharapkan adanya bantuan pagar kawat berduri untuk memperkuat kandang, bantuan bibit kambing pengganti, serta dana kompensasi agar warga bisa tetap semangat beternak,” tuturnya.
Ia juga mengimbau warga untuk memperkokoh kandang ternak dan meningkatkan kewaspadaan, terutama di malam hari. “Tujuannya agar serangan susulan dari hewan buas ini bisa dicegah. Kami menduga macan tutul turun gunung karena habitatnya di hutan mulai terganggu,” katanya.
Selama empat bulan terakhir, wilayah Kecamatan Hantara memang menjadi sasaran serangan hewan buas. Diduga, berkurangnya ketersediaan mangsa di hutan akibat pembukaan lahan dan aktivitas manusia membuat macan tutul turun ke perkampungan untuk mencari makanan.
BKSDA bersama aparat setempat dikabarkan tengah melakukan pemantauan dan penelusuran di sekitar wilayah serangan untuk memastikan keberadaan satwa liar tersebut. Warga berharap langkah konkret segera dilakukan agar teror macan tutul tidak lagi merugikan para peternak di daerah pegunungan Kuningan.






