WMO: Iklim Global Masuk Status Darurat, 2025 Jadi Salah Satu Tahun Terpanas dalam Sejarah

icon berita mobile

- Penulis Berita

Selasa, 24 Maret 2026 - 12:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Iklim global dinilai berada dalam kondisi darurat setelah indikator-indikator utama menunjukkan tren yang makin mengkhawatirkan. Dalam laporan tahunan State of the Global Climate 2025 yang dirilis pada 23 Maret 2026, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengonfirmasi bahwa suhu rata-rata global pada 2025 berada sekitar 1,43°C di atas rata-rata periode 1850–1900, sehingga menempatkan 2025 sebagai tahun terpanas kedua atau ketiga dalam catatan observasi.

WMO juga mencatat pola yang semakin tegas: 11 tahun terpanas yang pernah tercatat seluruhnya berada pada rentang 2015–2025. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut situasi ini sebagai peringatan keras, menegaskan bahwa “setiap indikator iklim utama sedang menyala merah” dan penundaan respons akan berakibat fatal.

Baca Juga :  Keuangan Inklusif Digital, Mendorong Akses Finansial untuk Semua

Menurut WMO, akar persoalan utamanya adalah melonjaknya konsentrasi gas rumah kaca—seperti CO₂, metana, dan N₂O—yang kini berada pada level tertinggi setidaknya dalam 800.000 tahun. Kenaikan ini mengganggu keseimbangan energi Bumi: energi yang masuk dari Matahari tidak lagi seimbang dengan energi yang lepas kembali ke angkasa.

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menegaskan bahwa aktivitas manusia semakin mendorong sistem iklim keluar dari keseimbangan alaminya, dan dampaknya akan terasa sangat panjang—hingga ratusan bahkan ribuan tahun. WMO menyebut ketidakseimbangan energi Bumi meningkat sejak pengamatan modern dimulai sekitar 1960, dengan lonjakan paling tajam dalam dua dekade terakhir dan mencapai rekor terbaru pada periode laporan.

Dampak terbesar dari “panas berlebih” ini tidak berhenti di daratan. WMO menekankan bahwa lebih dari 91% kelebihan panas tersimpan di lautan, dan ocean heat content kembali mencetak rekor pada 2025. Laju pemanasan laut pada periode 2005–2025 juga dilaporkan lebih dari dua kali lipat dibanding periode 1960–2005.

Baca Juga :  Mayat Terseret Ombak Pantai Ambal Ditemukan Pemancing di Kebumen

Pemanasan laut membawa efek berantai: ekosistem terdegradasi, keanekaragaman hayati menurun, kemampuan laut menyerap karbon melemah, badai tropis lebih mudah “terisi energi”, es kutub makin cepat hilang, dan permukaan laut terus naik. Dalam laporan yang sama, WMO menyebut rata-rata permukaan laut global sekitar 11 cm lebih tinggi dibanding 1993, saat pengukuran satelit mulai dilakukan—dan tren ini diperkirakan berlanjut dalam jangka sangat panjang.

Berita Terkait

Transformasi Jengkol, Dari Stigma “Kampungan” Menjadi Komoditas Ekspor Bernilai Miliaran Rupiah
UFC Perth, Tekanan Jack Della Maddalena di Kandang Sendiri
Sinopsis Netflix Sewu Dino, Kisah Horor Santet Janur Kuning
Disdukcapil Kuningan Luncurkan Inovasi “Si Kuda Cepat”, Permudah Layanan Adminduk untuk Warga Rentan
Kejar Target 450 Ton Sampah per Hari, Pemkot Bandung Aktifkan Kembali 6 TPST
Dua Kios di Pasar Caringin Ludes Terbakar, Satu Pedagang Alami Luka Bakar
Bersama Warga, Tim Pentahelix “Gercep” Mulai Beraksi Atasi Banjir di Baleendah
Pernyataan “Rakyat Cukup Bayar Pajak” Dipersoalkan: Pajak Rp2.357,72 T Jadi Alasan Publik Wajib Mengawasi

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:54 WIB

Transformasi Jengkol, Dari Stigma “Kampungan” Menjadi Komoditas Ekspor Bernilai Miliaran Rupiah

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:35 WIB

UFC Perth, Tekanan Jack Della Maddalena di Kandang Sendiri

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:19 WIB

Sinopsis Netflix Sewu Dino, Kisah Horor Santet Janur Kuning

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:15 WIB

Disdukcapil Kuningan Luncurkan Inovasi “Si Kuda Cepat”, Permudah Layanan Adminduk untuk Warga Rentan

Rabu, 29 April 2026 - 19:28 WIB

Kejar Target 450 Ton Sampah per Hari, Pemkot Bandung Aktifkan Kembali 6 TPST

Berita Terbaru

Saham bmri dividen murah

Nasional

BMRI Bagi Dividen Murah, Potensi Yield 8,5% di Mei 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:40 WIB