Distributor dan importir keramik di Amerika Serikat berpotensi menghadapi kenaikan biaya impor seiring berlanjutnya proses hukum dalam perkara perdagangan keramik yang melibatkan impor dari India. Peringatan ini disampaikan Tile Council of North America (TCNA) di tengah perkembangan gugatan di Pengadilan Perdagangan Internasional AS (U.S. Court of International Trade).
Kasus ini berawal pada April 2025, ketika Departemen Perdagangan AS (U.S. Department of Commerce) menetapkan tarif anti-subsidi (countervailing/anti-subsidy) pada impor keramik dari India, dengan kisaran 3% hingga 3,5%. Keputusan tersebut kemudian ditegaskan oleh U.S. International Trade Commission (ITC) yang menilai impor tersebut mengancam produsen domestik. Pada saat itu, Commerce tidak memberlakukan tarif anti-dumping tambahan.
Selanjutnya, Coalition for Fair Trade in Ceramic Tile koalisi yang mewakili produsen dalam negeri menggugat hasil penetapan tersebut. Koalisi menilai investigasi pemerintah belum menyeluruh, termasuk terkait entitas afiliasi yang dikaitkan dengan dua eksportir terbesar India. Mereka juga menekankan tekanan yang dihadapi industri domestik akibat tile impor yang diklaim dijual dengan harga tidak wajar. Perkara ini masih dalam peninjauan dan keputusan pengadilan diperkirakan keluar pada tahun ini.
Jika pengadilan memutuskan berpihak pada koalisi, tarif untuk impor dari India berpotensi meningkat. TCNA memperingatkan bahwa kenaikan tersebut dapat berlaku retroaktif pada unliquidated entries, yakni impor yang bea masuk, pajak, dan biayanya belum difinalisasi oleh U.S. Customs and Border Protection.
Dampak lainnya, importir of record bisa menghadapi penambahan kewajiban bea untuk pengiriman yang tanggalnya mundur hingga tahun 2024 dan berlanjut setidaknya sampai kuartal III 2026, apabila kenaikan tarif benar-benar diberlakukan pada entri yang belum dilikuidasi. Selain itu, industri juga dapat meminta tinjauan tahunan atas tarif anti-subsidi yang sudah berjalan, yang berpotensi memicu penyesuaian lanjutan.
Direktur eksekutif TCNA, Eric Astrachan, menekankan pentingnya kewaspadaan bagi perusahaan yang memasok keramik dari India, khususnya karena risiko penyesuaian tarif retroaktif dapat menimbulkan konsekuensi finansial yang besar pada impor yang belum diselesaikan status bea masuknya.






