Langkah cepat ditunjukkan Tim Pentahelix Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Baru sepekan terbentuk, tim ini langsung turun ke lapangan melakukan aksi nyata penanganan banjir yang selama ini kerap melanda wilayah tersebut.
Kegiatan perdana digelar pada Sabtu (25/04/2026) dengan fokus utama normalisasi saluran air dan irigasi di Jalan Laswi Cipicung, RW 02, Kelurahan Baleendah. Aksi ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga komunitas lokal yang bahu-membahu membersihkan saluran yang tersumbat.
Langkah ini menjadi titik awal implementasi konsep pentahelix di wilayah tersebut, yakni kolaborasi antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan media dalam menyelesaikan persoalan publik secara terpadu.
Camat Baleendah, Eef Syarif Hidayatullah, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti biasa, melainkan bagian dari strategi jangka panjang dalam mengurangi risiko banjir yang sudah lama menjadi persoalan di kawasan tersebut.
“Ini bentuk sinergi semua unsur. Kita mulai dari hal paling mendasar, yaitu membersihkan saluran dari sedimentasi dan sampah agar aliran air kembali lancar,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sebenarnya jaringan saluran air di Baleendah sudah tersedia dari hulu hingga hilir yang terhubung ke Sungai Citarum. Namun, seiring waktu, banyak saluran yang mengalami pendangkalan dan penyumbatan sehingga tidak berfungsi optimal.
Karena itu, normalisasi ini menjadi langkah awal sebelum dilakukan penanganan yang lebih besar, termasuk kemungkinan penggunaan alat berat untuk pengerukan di titik-titik tertentu.
“Perencanaan ini sudah lama kami rancang bersama dinas teknis seperti PUTR Kabupaten Bandung. Hari ini kita mulai realisasinya dari Cipicung,” tambahnya.
Ketua Tim Pentahelix Kecamatan Baleendah, Rahmat, turut mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan tersebut. Ia menilai, keterlibatan warga menjadi kunci keberhasilan program ini ke depan.
Menurutnya, penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial atau setengah-setengah. Dibutuhkan pendekatan menyeluruh dari hulu hingga hilir agar hasilnya benar-benar terasa.
“Ke depan, kita akan lanjutkan perbaikan dan pengaturan aliran air hingga jalur menuju Cirasea dan bermuara ke Citarum. Jadi penanganannya komprehensif, bukan tambal sulam,” jelas Rahmat.
Selain di Cipicung, tim juga telah mengidentifikasi beberapa titik rawan lainnya yang membutuhkan penanganan serupa, seperti di Jalan Siliwangi, kawasan RW 21, dan RW 19.
Sementara itu, warga setempat menyambut baik aksi cepat yang dilakukan tim. Ketua RW 02, Kostiawan, mengaku senang melihat lingkungan mulai dibersihkan dan saluran air kembali terbuka.
“Alhamdulillah sekarang sudah mulai terlihat perubahan. Mudah-mudahan air bisa mengalir lancar dan banjir bisa berkurang,” katanya.
Hal senada disampaikan Ketua RT 01, Rivai Triwidodo, yang wilayahnya kerap terdampak banjir. Ia berharap kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan sekali, melainkan berkelanjutan.
“Jangan hanya semangat di awal saja. Kami berharap ini jadi program rutin dan penanganannya makin optimal ke depan,” ujarnya.
Dengan adanya kolaborasi lintas sektor melalui model pentahelix ini, diharapkan penanganan banjir di wilayah Baleendah bisa dilakukan lebih cepat, efektif, dan berkelanjutan. Tidak hanya mengatasi dampak, tetapi juga menyentuh akar permasalahan yang selama ini menjadi penyebab utama banjir.
Kalau konsisten dijalankan, bukan tidak mungkin Baleendah yang dulu langganan banjir bisa berubah jadi contoh sukses penanganan berbasis kolaborasi. Dan ya, kalau semua pihak kompak, banjir pun bisa “pensiun dini.”






