BERITAMOBILE.COM – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Satria kembali menjadi sorotan publik dan menuai kritik tajam di media sosial setelah melontarkan pernyataan yang dianggap tidak sensitif dan nirempati terhadap kondisi ekonomi mayoritas masyarakat. Dalam sebuah seminar wellness di Jakarta, Kontroversi Ucapan Menteri Kesehatan menyebut bahwa seseorang dengan penghasilan minimum Rp 15 juta per bulan cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik dan hidup lebih sehat.
“Saya kan Menteri Kesehatan, bukan Menteri Kesakitan. Kalau gaji Anda sudah Rp 15 juta ke atas, saya jamin, kualitas hidup dan kesehatan mental Anda pasti lebih baik, karena stres soal kebutuhan dasar sudah berkurang,” ujar Menkes Budi dalam cuplikan video yang viral dalam 24 jam terakhir.
Pernyataan ini sontak memicu tagar #MenkesNirempati dan #Gaji15Juta menduduki puncak trending topic di platform X (sebelumnya Twitter), mencerminkan amarah dan kekecewaan publik, terutama dari kelompok buruh dan pekerja dengan upah minimum regional (UMR).
Kritik Tajam, Mengabaikan Realitas Ekonomi Mayoritas
Kritik utama datang dari pengamat dan serikat pekerja yang menilai Menkes mengabaikan realitas ekonomi di Indonesia. Data BPS menunjukkan bahwa Upah Minimum Provinsi (UMP) di banyak daerah jauh di bawah angka yang disebutkan Menkes.
Ketua Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI), Mira Lesmana, menyatakan bahwa pernyataan tersebut menunjukkan ‘jarak langit dan bumi’ antara pejabat dengan rakyat biasa.
“Ini bukan lelucon. Jutaan pekerja di Indonesia berjuang keras dengan gaji di bawah 5 juta. Kesehatan mental mereka terganggu justru karena himpitan ekonomi, bukan karena tidak mau hidup sehat. Pernyataan Menkes secara tidak langsung mengatakan bahwa orang miskin tidak berhak sehat,” tegas Mira.
Pengamat komunikasi publik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Hanif Prasetya, menilai bahwa pernyataan Menkes adalah blunder komunikasi politik yang serius.
“Pernyataan tersebut menciptakan jurang persepsi yang dalam. Pejabat publik, apalagi setingkat Menteri, harus memiliki sensitivitas tinggi terhadap isu sosial-ekonomi. Walaupun maksudnya mungkin dari perspektif statistik atau data, ia gagal mengartikulasikannya dengan empati. Ini dapat mengikis kepercayaan publik terhadap pemerintah,” jelas Dr. Hanif kepada BERITAMOBILE.COM.
Klarifikasi dan Respon Menkes
Menanggapi gelombang protes terkait Kontroversi Ucapan Menteri Kesehatan, kantor Menkes Budi Satria merilis pernyataan pers pada malam hari. Dalam klarifikasi tersebut, Menkes Budi menyampaikan permohonan maaf dan mencoba meluruskan konteks pernyataannya.
“Saya mohon maaf jika ucapan saya diartikan berbeda dan menyakiti banyak pihak. Maksud saya adalah, secara statistik, peningkatan pendapatan akan mengurangi faktor stres eksternal yang berdampak pada kesehatan. Hal ini bukan untuk mengecilkan perjuangan masyarakat berpenghasilan rendah. Komitmen kami tetap sama: memastikan seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang besaran gaji, mendapatkan akses kesehatan yang layak,” bunyi sebagian pernyataan resmi dari Menkes.
Meskipun telah menyampaikan permintaan maaf, netizen masih ramai menanggapi dengan sinis. Banyak yang menuntut agar pejabat publik lebih fokus pada perbaikan layanan kesehatan dan peningkatan kesejahteraan, alih-alih melontarkan celetukan kontroversial yang memperkeruh suasana.






