Dunia tengah bergerak cepat menuju era kecerdasan buatan (AI). Namun, kesiapan sumber daya manusia masih menjadi tantangan besar yang perlu dijawab. Menyikapi hal itu, IBM bersama Dicoding resmi mengumumkan kolaborasi strategis untuk memperkuat keterampilan AI, khususnya bagi siswa vokasi di Indonesia.
Program ini diluncurkan pada 3 Oktober 2025 di Politeknik Negeri Bandung dengan nama PIJAK. Tujuannya sederhana tapi penting: membekali generasi muda dengan kompetensi digital yang relevan, siap kerja, sekaligus membuka jalan menuju peluang karier berbasis teknologi di masa depan.
Inisiatif ini sejalan dengan komitmen global IBM yang menargetkan peningkatan keterampilan 30 juta orang hingga 2030. Khusus di bidang AI, IBM berambisi melatih dua juta individu pada 2026 melalui platform pendidikan gratis SkillsBuild. Di sinilah peran Dicoding menjadi krusial, dengan komunitas pelajarnya yang sudah menjangkau lebih dari satu juta orang di 10 provinsi.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menjangkau lebih luas kalangan pelajar vokasi yang selama ini sering menghadapi keterbatasan akses pembelajaran teknologi tingkat lanjut. Melalui PIJAK, mereka bisa belajar langsung dari kurikulum berstandar internasional, dengan materi yang sudah disesuaikan dalam Bahasa Indonesia.
Program PIJAK sendiri menekankan pada keterampilan praktis yang dibutuhkan di dunia kerja, mulai dari dasar-dasar Artificial Intelligence, pemahaman lebih mendalam tentang Generative AI, hingga pentingnya Etika AI. Aspek etika menjadi salah satu pilar utama untuk memastikan teknologi dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Tak berhenti di teori, sekelompok siswa juga akan berkesempatan mengikuti jalur pelatihan intensif bertajuk “Career Management Essentials”. Setelah lulus, mereka akan menerima kredensial digital resmi dari IBM, yang diakui luas oleh industri sebagai bukti keahlian di bidang AI.
Narenda Wicaksono, CEO Dicoding, menyebut kerja sama ini sebagai langkah penting memperluas literasi digital nasional. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade, Dicoding berkomitmen menghadirkan kurikulum global yang diracik bersama para pakar industri agar siswa vokasi benar-benar siap menghadapi dunia kerja modern.
Di sisi lain, Roy Kosasih, Presiden Direktur IBM Indonesia, menegaskan program PIJAK adalah wujud dedikasi IBM untuk mendukung transformasi digital tanah air. Menurutnya, dengan adanya SkillsBuild dan sinergi bersama Dicoding, siswa vokasi kini memiliki akses yang lebih nyata ke teknologi mutakhir sekaligus perangkat persiapan karier yang lebih lengkap.
Kebutuhan peningkatan keterampilan ini semakin mendesak. Laporan World Economic Forum menyoroti bahwa hampir 39% keterampilan yang ada hari ini bisa tidak relevan lagi pada 2030. Sementara data internal IBM memperlihatkan paradoks: 87% eksekutif percaya AI akan memperkuat pekerjaan manusia, tetapi 47% mengakui tenaga kerja mereka belum memiliki bekal untuk mengimplementasikannya secara efektif.
Kesenjangan ini menunjukkan urgensi program seperti PIJAK. Generative AI yang tengah berkembang pesat justru bisa memperlebar jurang keterampilan bila tidak segera diimbangi pendidikan yang tepat.
Dengan adanya PIJAK, siswa vokasi kini memiliki jalur lebih jelas untuk bertransformasi menjadi talenta siap pakai di bidang AI. Tak hanya sebagai pekerja, mereka juga berpotensi menjadi wirausahawan digital yang mampu menciptakan nilai tambah bagi ekonomi Indonesia.
Pada akhirnya, kolaborasi IBM dan Dicoding ini bukan sekadar transfer pengetahuan. Lebih dari itu, ini adalah investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi muda menghadapi masa depan yang sangat dipengaruhi oleh teknologi.






