BERITAMOBILE.COM – Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Garut, Jawa Barat, setelah menyantap menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terus memanas. Laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengejutkan publik setelah mengumumkan temuan ‘koktail’ 12 jenis patogen berbeda dalam sampel makanan dan muntahan korban, yang terdiri dari 8 bakteri, 2 virus, dan 2 zat kimia.
Dinas Kesehatan Garut bahkan telah menetapkan status darurat kesehatan menyusul lonjakan jumlah korban yang mencapai 282 siswa dari berbagai Sekolah Penyelenggara Program Gizi (SPPG). Kasus ini menambah panjang daftar insiden keracunan MBG yang dilaporkan terjadi di lebih dari 6.500 lokasi di seluruh Indonesia sejak awal tahun.
Temuan Kemenkes: 12 Patogen di Balik Keracunan
Juru Bicara Kemenkes, dr. Rina Nuraini, dalam konferensi pers sore tadi, mengungkapkan bahwa hasil uji laboratorium menunjukkan kontaminasi parah pada makanan yang disajikan.
“Kami menemukan total 12 agen berbahaya. Delapan di antaranya adalah bakteri, termasuk E. coli dan Salmonella yang tinggi, dua jenis virus penyebab gastroenteritis akut, serta dua zat kimia yang diduga berasal dari pengawet non-pangan,” jelas dr. Rina.
Menurutnya, keberadaan berbagai patogen ini dalam satu sampel menunjukkan adanya kegagalan total dalam rantai sanitasi dan higienitas, mulai dari pengadaan bahan baku, proses pengolahan di dapur sentra, hingga distribusi. “Ini bukan hanya masalah satu bakteri, tapi gabungan banyak kontaminan yang berinteraksi. Inilah yang menyebabkan gejala klinis yang cepat dan parah,” tegasnya.
Gelombang Protes dan Tuntutan Evaluasi Menyeluruh
Insiden ini sontak memicu gelombang protes dari berbagai elemen masyarakat dan aktivis kesehatan. Di Jakarta, sekelompok ibu-ibu yang menamakan diri ‘Aliansi Emak Peduli Gizi’ menggelar aksi di depan Monas, membawa centong dan panci sebagai simbol protes atas buruknya kualitas program MBG.
Direktur Eksekutif Yayasan Konsumen Pangan Indonesia (YKPI), Irwan Sanjaya, mendesak pemerintah untuk segera melakukan audit higienitas dan sanitasi secara transparan terhadap seluruh Sekolah Penyelenggara Program Gizi (SPPG) dan dapur sentra yang terlibat.
“Sudah terlalu banyak korban. Temuan 12 patogen ini adalah bukti nyata bahwa program ini dijalankan tanpa standar kesehatan yang memadai. Kami menuntut penghentian sementara MBG sampai seluruh SPPG terjamin kebersihannya dan memiliki sertifikasi layak higienis,” ujar Irwan.
Di sisi lain, anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, menyatakan keprihatinannya dan meminta Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) untuk segera bertanggung jawab. “Kami butuh penjelasan mengapa standar pengawasan bisa begitu longgar hingga mengakibatkan keracunan massal. Kesehatan anak-anak adalah prioritas, bukan uji coba program,” tutup Irma.
Saat berita ini diturunkan, ratusan siswa di Garut masih menjalani perawatan intensif di beberapa rumah sakit, sementara pihak kepolisian dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus melakukan investigasi mendalam untuk mengidentifikasi sumber utama kontaminasi tersebut.






