PT Kereta Api Indonesia (KAI) menggelar simulasi keadaan darurat serentak di 17 stasiun LRT Jabodebek sepanjang November 2025. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan petugas dan menguji prosedur tanggap darurat dalam menangani berbagai insiden kritis di stasiun.
Executive Vice President LRT Jabodebek, Mochamad Purnomosidi, mengatakan latihan ini krusial untuk memperkuat penguasaan alur komunikasi dan langkah teknis penanganan insiden. “Ini sangat penting agar petugas mampu bekerja cepat, terarah, dan tetap tenang menghadapi situasi kritis,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Skenario latihan difokuskan pada tiga risiko utama, yakni penanganan kebakaran awal, evakuasi pengguna yang terjebak di dalam lift, dan penanganan tumpahan limbah B3. Latihan ini juga menguji fungsionalitas perangkat keselamatan di 17 stasiun LRT Jabodebek, seperti APAR, hydrant, sprinkler, fire alarm, dan jalur evakuasi.
Peningkatan kesiapsiagaan di 17 stasiun LRT Jabodebek ini, menurut Purnomosidi, menjadi standar mutlak mengingat operasional kereta yang sudah driverless (tanpa awak). Kegagalan respons cepat di stasiun dapat berakibat fatal karena petugas di darat adalah lini pertahanan pertama yang harus menangani kepanikan penumpang sebelum bantuan eksternal tiba, katanya.
Manager Public Relations LRT Jabodebek Mahendro Trang Bawono menambahkan, simulasi ini memiliki fungsi ganda untuk audit fasilitas di 17 stasiun LRT Jabodebek. “Simulasi seperti ini bukan hanya soal menguji respons petugas, tetapi juga memastikan bahwa seluruh perangkat pendukung keselamatan berada dalam kondisi optimal,” ujar Manager Public Relations LRT Jabodebek Mahendro Trang Bawono.
Puncak simulasi kedaruratan LRT Jabodebek akan digelar di Stasiun Harjamukti pada 28-29 November, melibatkan instansi eksternal seperti Ditjen Perkeretaapian, Dishub, dan Damkar. Latihan terpadu di 17 stasiun LRT Jabodebek ini menjadi bukti komitmen KAI dalam membangun budaya keselamatan di moda transportasi massal terbaru ibu kota.






