Toyota Motor Corp mencatat penurunan signifikan dalam produksi kendaraan di dua pasar terbesar dunia, Amerika Serikat dan China, selama September 2024. Penurunan ini disebut sebagai akibat dari melemahnya permintaan konsumen dan gangguan rantai pasok komponen elektronik, yang masih dirasakan sejak pandemi berakhir.
Menurut laporan resmi perusahaan, produksi Toyota di China turun hampir 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara di AS, angka penurunan mencapai 5%. Meskipun total produksi global Toyota masih relatif stabil, tren ini menjadi perhatian karena kedua pasar tersebut menyumbang lebih dari 40% dari total penjualan global pabrikan asal Jepang itu.
Juru bicara Toyota menyebutkan bahwa penurunan permintaan sedan dan SUV konvensional, serta kompetisi ketat dari kendaraan listrik lokal, menjadi faktor utama di pasar China.
“Pasar China saat ini sangat dinamis. Konsumen lebih memilih mobil listrik dan hibrida dari merek domestik yang menawarkan harga lebih agresif,” ujar sumber internal Toyota seperti dikutip Nikkei Asia.
Sementara itu, di Amerika Serikat, kenaikan suku bunga dan biaya pembiayaan mobil menjadi penyebab utama perlambatan penjualan. Dealer melaporkan konsumen semakin berhati-hati dalam melakukan pembelian baru, terutama di segmen mobil premium.
Analis industri otomotif menilai, kondisi ini menjadi tantangan besar bagi Toyota yang selama ini mengandalkan produksi massal efisien dan model hybrid sebagai pilar utama bisnisnya. “Toyota berada di persimpangan antara mempertahankan model hybrid yang sukses dan mempercepat peralihan ke kendaraan listrik murni,” ujar analis Koji Endo dari SBI Securities.
Sebagai respons, Toyota berencana melakukan penyesuaian produksi fleksibel dan memperluas lini kendaraan listrik serta hibrida plug-in di pasar global mulai 2025. Strategi ini diharapkan dapat menjaga stabilitas operasional sekaligus mengimbangi fluktuasi permintaan di dua pasar utama tersebut.
Penurunan produksi ini menunjukkan bahwa bahkan produsen mobil terbesar dunia tidak kebal terhadap perubahan tren konsumen dan tekanan transisi energi bersih, yang kini menjadi arus utama industri otomotif global.






