Perang dagang cip Nexperia kini memakan korban baru, memaksa Nissan Motor memangkas produksi SUV X-Trail di Jepang. Krisis cip Nexperia ini dipicu oleh larangan ekspor China setelah pemerintah Belanda mengambil alih perusahaan semikonduktor tersebut.
Nissan mengkonfirmasi akan memangkas 900 unit X-Trail di pabrik Kyushu mulai 10 November, dan mengevaluasi produksi Nissan Note di pabrik Oppama. Pemasok mobil global, termasuk Nissan, kini bergegas mengatasi kekurangan komponen vital yang menggunakan cip Nexperia, seperti sistem rem dan hiburan.
Krisis cip Nexperia ini meletus setelah pemerintah Belanda mengambil alih perusahaan itu pada September, mengutip risiko keamanan dan transfer teknologi ke induknya di China, Wingtech. Beijing merespons tegas dengan melarang ekspor produk Nexperia, meskipun sebagian besar cipnya diproduksi di Eropa namun 70 persennya dikemas di China.
Langkah Belanda menasionalisasi Nexperia, menurut para analis, adalah upaya putus asa Eropa untuk mengamankan rantai pasok semikonduktor vital di tengah hegemoni AS dan China. Namun, langkah proteksionis ini justru menjadi bumerang yang memicu balasan langsung Beijing, mengorbankan industri otomotif Jepang yang ironisnya tidak terlibat dalam sengketa, katanya.
Nissan bukan satu-satunya korban, Honda Motor juga telah menangguhkan operasi pabrik Celaya di Meksiko pekan lalu yang memproduksi Honda HR-V. Direktur Kinerja Nissan Guillaume Cartier mengakui bahwa risiko rantai pasokan dari krisis cip Nexperia ini akan menjadi hambatan terbesar di paruh kedua tahun fiskal.
Kekacauan produksi akibat sengketa Nexperia ini menjadi bukti nyata betapa rapuhnya rantai pasok otomotif global di tengah perang teknologi antara negara-negara besar. Eskalasi diplomatik yang tampaknya jauh di Eropa kini berdampak langsung pada pabrik perakitan di Jepang dan Meksiko, mengancam pemulihan industri pasca-pandemi.






