Pasar Surat Berharga Negara (SBN) saat ini tengah berada dalam tekanan hebat menyusul meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal domestik. Hal ini tercermin dari lonjakan imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun yang telah menembus kisaran 6,34% pada medio Januari 2026, naik signifikan dibandingkan level 6,04% di awal tahun.
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar sekunder, tetapi juga mulai merembet ke pasar perdana. Pada lelang Surat Utang Negara (SUN) terbaru, total penawaran yang masuk tercatat menurun menjadi Rp 82,90 triliun, lebih rendah dibandingkan periode awal Januari yang mampu menyentuh angka Rp 90,96 triliun.
Faktor Domestik dan Suplai SBN
Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management, Domingus Sinarta Ginting, menilai bahwa sentimen domestik menjadi pemicu utama koreksi di pasar obligasi. Pelaku pasar mulai mengantisipasi potensi pelebaran defisit fiskal yang berujung pada peningkatan kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Kondisi ini menciptakan ekspektasi peningkatan suplai SBN di pasar. Secara rasional, investor merespons kemungkinan banjirnya pasokan obligasi dengan meminta premi imbal hasil yang lebih tinggi, terutama untuk tenor menengah hingga panjang. Hal ini membuat investor menjadi jauh lebih sensitif terhadap harga dalam setiap sesi lelang.
Dampak Pelemahan Rupiah dan Outflow Asing
Selain faktor fiskal, fluktuasi nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp 17.000 per dolar AS turut memperburuk situasi. Pelemahan rupiah ini bukan sekadar masalah sentimen, melainkan cerminan dari arus modal keluar (capital outflow) yang nyata.
Hingga pertengahan Januari 2026, investor non-residen tercatat melakukan jual neto di pasar SBN mencapai Rp 9,91 triliun. Outflow masif ini secara otomatis menekan nilai tukar dan mengurangi permintaan marginal di pasar obligasi, yang pada akhirnya memicu kenaikan risk premium.
Strategi Investasi dan Proyeksi Yield
Dalam menghadapi volatilitas pasar yang tinggi, investor disarankan untuk menerapkan strategi yang lebih disiplin:
-
Maksimalkan Carry: Fokus pada perolehan bunga sambil tetap mengelola durasi portofolio secara ketat.
-
Akumulasi Bertahap: Masuk ke pasar secara bertahap pada tenor-tenor yang likuid untuk mengunci yield yang menarik.
-
Pantau Stabilisasi: Menunggu sinyal kejelasan arah kebijakan fiskal dan stabilitas rupiah sebelum mengambil posisi agresif.
Untuk kuartal I 2026, yield SUN tenor 10 tahun diproyeksikan akan bergerak di rentang 6,25% hingga 6,60%. Namun, dalam skenario risiko di mana tekanan rupiah terus berlanjut dan arus modal keluar tetap besar, imbal hasil obligasi pemerintah tersebut berisiko menguji level psikologis baru di angka 6,70% hingga 6,80%.
Sebaliknya, jika koordinasi kebijakan mampu menstabilkan rupiah dan menarik kembali aliran dana asing, yield berpotensi melandai ke area 6,10%–6,25%.






