Citra satelit terbaru mengungkap Sayap Timur Gedung Putih telah rata dengan tanah di Washington, 23 Oktober. Pembongkaran total ini dilakukan untuk membangun proyek ballroom baru yang ambisius atas perintah Presiden Donald Trump.
Foto dari Planet Labs menunjukkan seluruh struktur, yang sebelumnya merupakan kantor Ibu Negara AS, kini hanya menyisakan puing-puing. Ekskavator terlihat di lokasi menghancurkan sisa koridor berkolom yang menghubungkan kediaman Presiden ke Sayap Timur.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengkonfirmasi skala proyek yang berkembang dan meminta publik “percaya dalam proses”. “Setiap proyek akan berubah seiring waktu ketika menilai kembali desain, dan kami akan terus memperbarui semua perubahan itu,” kata Leavitt.
Proyek renovasi Gedung Putih ini, menurut pengamat arsitektur, merupakan intervensi paling drastis terhadap bangunan ikonik tersebut dalam sejarah modern. Langkah Trump untuk mengubah total Sayap Timur dinilai sangat berani, mengabaikan aspek historis demi visi kemegahan pribadi yang akan mengubah wajah pusat pemerintahan AS selamanya, katanya.
Leavitt mengatakan biaya proyek $300 juta akan ditanggung oleh dana pribadi Trump dan pendukungnya. “Ini telah diperluas, akan menjadi ballroom yang paling indah di dunia,” ujar Trump, seraya menambahkan, “Saya tidak akan dapat mengungkapkan sampai selesai, tetapi saya akan berkontribusi apa pun yang diperlukan.”
Pembongkaran Sayap Timur Gedung Putih ini menandai warisan fisik yang signifikan dari pemerintahan Trump, memicu perdebatan sengit antara pelestarian sejarah dan modernisasi. Keputusan kontroversial ini dipastikan akan terus dikenang, tidak hanya karena kemegahan ballroom baru, tetapi juga karena hilangnya bagian sejarah kepresidenan AS.






