Skeptisisme TKA 2025 Dinilai Soroti Cacat Sistem Pendidikan

icon berita mobile

- Penulis Berita

Kamis, 30 Oktober 2025 - 18:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Tes Kemampuan (Freepik)

Ilustrasi Tes Kemampuan (Freepik)

Penolakan sejumlah siswa SMA/SMK untuk mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 dinilai sebagai wujud sikap skeptis terhadap pemerintah. Pengamat kebijakan pendidikan UPI Prof Cecep Darmawan, Kamis (30/10/2025), menyebut keengganan ini adalah peringatan serius bagi Kementerian Pendidikan terkait masalah sistemik yang lebih luas.

Cecep Darmawan memaparkan data bahwa 70 persen lulusan SMA tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, sebuah angka yang sangat tinggi. “Ketika mereka tidak melanjutkan sekolah, syukur kalau langsung kerja, kalau enggak kerja malah jadi pengangguran, maka bertambah lagi jumlah pengangguran, lalu jadi masalah lagi,” ungkap Cecep.

Penolakan siswa pada TKA 2025 ini, menurut Cecep, harus menjadi momentum evaluasi fundamental, bukan hanya perdebatan teknis pelaksanaan tes. Pemerintah harus berani menggali motivasi asli siswa, karena bisa jadi TKA dianggap tidak relevan bagi mayoritas siswa yang tidak akan melanjutkan studi ke universitas, katanya.

Baca Juga :  AC Milan Pagari Alexis Saelemaekers hingga 2031, Kontrak Jangka Panjang!

Persoalan utama kini adalah status TKA 2025 yang tidak jelas, apakah wajib atau hanya imbauan opsional dari kementerian. “Tes yang fair harus diberi tahu juga apa yang ditesnya. Kalau perlu, peserta didik diberi kisi-kisi soal jadi semua menyiapkan diri,” tutur Cecep.

Cecep juga mengkritik mindset pendidikan saat ini yang seakan memaksa anak cerdas di semua bidang, padahal potensi mereka berbeda. Ia menilai penolakan TKA ini tidak sepenuhnya salah siswa, melainkan cerminan kebutuhan perbaikan sistem pendidikan yang lebih mendasar dan menghargai keragaman kecerdasan.

Sikap skeptis siswa terhadap TKA 2025 ini menjadi rapor merah bagi relevansi kebijakan pendidikan pemerintah saat ini. Di tengah gempuran perubahan zaman, evaluasi akademik yang kaku dan tidak jelas tujuannya terbukti gagal menjawab kebutuhan riil 70 persen lulusan yang akan langsung terjun ke masyarakat.

Baca Juga :  Penemuan Lukisan Gua Tertua Dunia di Pulau Muna Guncang Dunia Arkeologi

Berita Terkait

Transformasi Jengkol, Dari Stigma “Kampungan” Menjadi Komoditas Ekspor Bernilai Miliaran Rupiah
UFC Perth, Tekanan Jack Della Maddalena di Kandang Sendiri
Sinopsis Netflix Sewu Dino, Kisah Horor Santet Janur Kuning
Disdukcapil Kuningan Luncurkan Inovasi “Si Kuda Cepat”, Permudah Layanan Adminduk untuk Warga Rentan
Kejar Target 450 Ton Sampah per Hari, Pemkot Bandung Aktifkan Kembali 6 TPST
Dua Kios di Pasar Caringin Ludes Terbakar, Satu Pedagang Alami Luka Bakar
Bersama Warga, Tim Pentahelix “Gercep” Mulai Beraksi Atasi Banjir di Baleendah
Pernyataan “Rakyat Cukup Bayar Pajak” Dipersoalkan: Pajak Rp2.357,72 T Jadi Alasan Publik Wajib Mengawasi

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:54 WIB

Transformasi Jengkol, Dari Stigma “Kampungan” Menjadi Komoditas Ekspor Bernilai Miliaran Rupiah

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:35 WIB

UFC Perth, Tekanan Jack Della Maddalena di Kandang Sendiri

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:19 WIB

Sinopsis Netflix Sewu Dino, Kisah Horor Santet Janur Kuning

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:15 WIB

Disdukcapil Kuningan Luncurkan Inovasi “Si Kuda Cepat”, Permudah Layanan Adminduk untuk Warga Rentan

Rabu, 29 April 2026 - 19:28 WIB

Kejar Target 450 Ton Sampah per Hari, Pemkot Bandung Aktifkan Kembali 6 TPST

Berita Terbaru

Saham bmri dividen murah

Nasional

BMRI Bagi Dividen Murah, Potensi Yield 8,5% di Mei 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:40 WIB