Studi Ungkap Dampak Penggunaan Media Sosial terhadap Konsentrasi Anak

icon berita mobile

- Penulis Berita

Rabu, 10 Desember 2025 - 09:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa meningkatnya penggunaan media sosial pada anak dapat melemahkan tingkat konsentrasi dan berpotensi berkaitan dengan gejala gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD). Penelitian yang telah melalui proses telaah sejawat ini melibatkan lebih dari 8.300 anak di Amerika Serikat (AS) berusia 10 hingga 14 tahun, dan menemukan adanya hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dengan meningkatnya tanda-tanda kesulitan berkonsentrasi.

Para peneliti dari Karolinska Institute di Swedia serta Oregon Health & Science University di AS mencatat bahwa anak-anak yang terlibat dalam penelitian tersebut rata-rata menghabiskan 2,3 jam per hari untuk menonton televisi atau video online, 1,4 jam berselancar di media sosial, serta 1,5 jam bermain gim. Meski demikian, penelitian menemukan bahwa aktivitas seperti menonton video dan bermain gim tidak menunjukkan keterkaitan dengan gejala ADHD, termasuk perilaku mudah teralihkan.

Baca Juga :  Google Tingkatkan Pencarian dan Assistant dengan Teknologi Gemini AI

Sebaliknya, paparan media sosial dalam jangka waktu tertentu justru tercatat berhubungan dengan meningkatnya gejala ketidakmampuan untuk fokus. ADHD sendiri merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan impulsivitas, gangguan memori jangka pendek terkait tugas harian, serta kesulitan untuk mempertahankan perhatian.

“Kami menemukan adanya hubungan antara penggunaan media sosial dengan peningkatan gejala ketidakmampuan berkonsentrasi, yang dalam penelitian ini diinterpretasikan sebagai kemungkinan efek kausal,” tulis para peneliti dalam laporan tersebut, dikutip dari The Guardian, Senin (8/12). Mereka menambahkan bahwa meskipun dampaknya kecil pada tingkat individu, efek tersebut dapat menjadi signifikan apabila terjadi pada skala populasi. Temuan itu juga membuka kemungkinan bahwa meningkatnya penggunaan media sosial dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong naiknya diagnosis ADHD.

Torkel Klingberg, profesor neurosains kognitif di Karolinska Institute, menjelaskan bahwa media sosial memberikan rangsangan yang bersifat menginterupsi, seperti pesan atau notifikasi yang terus muncul. Bahkan, hanya dengan memikirkan kemungkinan adanya pesan baru, anak sudah dapat mengalami gangguan mental yang mengurangi fokus. “Hal tersebut dapat menjelaskan hubungan antara penggunaan media sosial dan penurunan kemampuan konsentrasi,” ujarnya.

Baca Juga :  Indonesia Sambut Agen AI Mandiri, Tren Teknologi Ubah Bisnis ASEAN

Penelitian ini juga menegaskan bahwa hubungan antara media sosial dan gejala ADHD tidak dipengaruhi oleh faktor sosioekonomi maupun kecenderungan genetik. Klingberg menambahkan bahwa peningkatan penggunaan media sosial dari tahun ke tahun dapat menjadi salah satu penyebab meningkatnya diagnosis ADHD. Berdasarkan survei kesehatan nasional anak-anak di AS, prevalensi ADHD meningkat dari 9,5 persen pada periode 2003–2007 menjadi 11,3 persen pada 2020–2022.

Namun, para peneliti mengingatkan bahwa hasil ini tidak berarti semua anak pengguna media sosial akan mengalami masalah konsentrasi. Mereka menyoroti kecenderungan anak-anak menggunakan media sosial lebih dini, bahkan sebelum usia 13 tahun, batas minimal penggunaan platform seperti TikTok dan Instagram.

Baca Juga :  Kacamata AR Xreal 1S Resmi Meluncur di CES 2026 Lebih Terjangkau

“Peningkatan penggunaan media sosial sejak usia dini ini menegaskan perlunya verifikasi usia yang lebih ketat serta pedoman yang lebih jelas dari perusahaan teknologi,” tulis laporan tersebut.

Penelitian juga menemukan bahwa durasi penggunaan media sosial terus meningkat seiring bertambahnya usia, dari sekitar 30 menit per hari pada usia sembilan tahun menjadi dua setengah jam per hari saat mereka berusia 13 tahun. Anak-anak yang menjadi objek penelitian mulai terdaftar sejak usia sembilan hingga 10 tahun antara tahun 2016 hingga 2018. Studi tersebut dijadwalkan diterbitkan dalam jurnal Pediatrics Open Science.

Samson Nivins, penulis studi sekaligus peneliti pascadoktoral di Karolinska Institute, berharap temuan ini dapat membantu orang tua serta pembuat kebijakan dalam merumuskan keputusan yang lebih tepat mengenai pola konsumsi digital yang mendukung perkembangan kognitif anak.

Berita Terkait

Teknologi Estetika dan Perawatan Preventif, Tren yang Diminati, Amankah?
Pemimpin Teknologi di Dewan Sains Trump, Jensen Huang dan Mark Zuckerberg Resmi Bergabung
Ramadan sebagai Momentum Rekonsiliasi Sosial di Era AI yang Menantang
Perlindungan Digital Nasional, Menteri Komdigi Resmi Larang Akun Medsos bagi Anak di Bawah 16 Tahun
Google Gemini Bantu Optimalkan Aktivitas Ramadhan Lebih Produktif
Samsung Berhasil Uji Coba Teknologi Jaringan 6G Terbaru
Robot Penari di Beijing, Bukti Nyata Pesatnya Kemajuan Teknologi Tiongkok
Harga Samsung Galaxy A55 5G, HP Mid-Range Premium dengan Performa Kencang
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 11:18 WIB

Teknologi Estetika dan Perawatan Preventif, Tren yang Diminati, Amankah?

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:13 WIB

Pemimpin Teknologi di Dewan Sains Trump, Jensen Huang dan Mark Zuckerberg Resmi Bergabung

Kamis, 19 Maret 2026 - 22:07 WIB

Ramadan sebagai Momentum Rekonsiliasi Sosial di Era AI yang Menantang

Minggu, 8 Maret 2026 - 11:06 WIB

Perlindungan Digital Nasional, Menteri Komdigi Resmi Larang Akun Medsos bagi Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 1 Maret 2026 - 09:35 WIB

Google Gemini Bantu Optimalkan Aktivitas Ramadhan Lebih Produktif

Berita Terbaru

Saham bmri dividen murah

Nasional

BMRI Bagi Dividen Murah, Potensi Yield 8,5% di Mei 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:40 WIB