Legenda Real Madrid sekaligus mantan pelatih Jorge Valdano menyoroti kondisi tim setelah hasil imbang kontra Girona di La Liga. Menurutnya, performa Real Madrid kini terlalu banyak bergantung pada Kylian Mbappe, hingga muncul pertanyaan besar: “Apa jadinya Real tanpa Mbappe?”
Komentar Valdano muncul seusai Madrid bermain 1-1 di Montilivi, di mana satu-satunya gol Los Blancos kembali lahir dari kaki Mbappe melalui penalti. Gol itu sekaligus menambah koleksi striker Prancis tersebut menjadi 23 gol dari 19 pertandingan di seluruh kompetisi—lebih dari setengah total gol tim sejauh musim ini.
Dampak Mbappe Terlalu Besar, Real Kehilangan Alternatif
Valdano menilai kontribusi Mbappe memang luar biasa, namun justru menimbulkan masalah baru: ketidakseimbangan serangan.
Ia menyebut bahwa performa Real sering kali “diselamatkan” oleh aksi individu Mbappe, baik ketika tim tertinggal maupun bermain buruk. Meski demikian, hasil akhirnya tetap tidak stabil—Madrid tetap kehilangan poin dan tampak kesulitan menciptakan variasi serangan selain mengandalkan sang bintang.
Media Spanyol sebelumnya sudah mengangkat isu serupa. Surat kabar MARCA bahkan menuliskan bahwa Real kini mengalami “Mbappe-dependencia”—sebuah kondisi di mana skema permainan runtuh bila Mbappe tidak berada dalam performa terbaik.
Mbappe Membantah: ‘Bukan Ketergantungan, Itu Tanggung Jawab Saya’
Ketika ditanya soal anggapan publik, Mbappe menolak istilah ketergantungan.
Menurutnya, tugas seorang penyerang memang mencetak gol. Jika Real tidak menang, dirinya wajar menjadi pihak yang bertanggung jawab karena perannya berada di lini terdepan.
“Anda tidak boleh menyebutnya ketergantungan. Katakan saja bahwa saya harus mencetak lebih banyak gol jika tim tidak menang,” ujar Mbappe.
Namun data tetap berbicara: Real sudah mencetak 41 gol musim ini, dan 23 di antaranya berasal dari Mbappe. Selisih kontribusinya terlalu besar dibandingkan para penggawa lain.
Tren Mengkhawatirkan: Ketika Mbappe Tidak Mencetak Gol, Real Tersendat
Dalam tiga laga terakhir La Liga, Real Madrid gagal meraih kemenangan. Ironisnya, dalam periode yang sama, Mbappe hanya menyumbang satu gol. Setiap kali Mbappe mandek, serangan Madrid ikut buntu.
Dalam laga kontra Girona, Madrid bahkan menurunkan lima pemain menyerang sekaligus—Mbappe, Vinicius, Rodrygo, Bellingham, hingga Gonzalo Garcia. Namun dari 25 tembakan, hanya 4 yang tepat sasaran, menunjukkan betapa tumpulnya eksekusi akhir Madrid.
Rodrygo dalam Krisis: Rekor yang Tidak Diinginkan
Kritik juga tertuju pada Rodrygo. Penyerang Brasil itu kini menjalani 30 pertandingan berturut-turut tanpa gol, menyamai catatan terburuk dalam sejarah klub. Menurut pelatih Xabi Alonso, masalah terbesar tim bukanlah minimnya peluang, melainkan buruknya penyelesaian akhir.
“Kami menciptakan tiga hingga empat peluang emas, tetapi gagal menuntaskannya. Kurangnya ketenangan dalam finalisasi membuat kami kehilangan poin,” ujar Alonso.
Real Madrid Perlu Solusi Segera
Alonso juga menyinggung soal kestabilan permainan yang masih naik-turun. Real Madrid kerap kehilangan kontrol pertandingan dalam periode tertentu, sehingga membuat mereka mudah diserang balik dan kehilangan ritme.
Musim masih panjang, tetapi tren ketergantungan pada satu pemain—bahkan selevel Mbappe sekalipun—bisa menjadi bumerang.
Valdano pun menutup kritiknya dengan satu peringatan tajam:
“Ketika satu pemain memikul hampir semua beban gol, tim akan kehilangan identitasnya.”
Jika Real Madrid tidak segera menemukan solusi, perburuan gelar bisa berubah menjadi perjuangan berat, terutama ketika kompetisi memasuki fase krusial.






