Peristiwa keracunan massal kembali mencoreng dunia pendidikan di Jawa Barat.
Sebanyak 28 siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dilaporkan mengalami gejala keracunan. Dugaan kuat mengarah pada jajanan yang mereka konsumsi di lingkungan sekolah, yaitu telur gulung.
Insiden ini terjadi di SD Negeri 1 Ciptaharja, Kecamatan Cipatat, Bandung Barat, pada Jumat (17/10). Puluhan siswa tersebut menyantap jajanan yang dibeli dari pedagang sekitar pukul 10.00 WIB, saat jam istirahat.
Beberapa jam setelah mengonsumsi makanan ringan itu, para siswa mulai mengeluhkan gejala yang sama. Keluhan yang dirasakan meliputi mual, pusing, hingga muntah-muntah. Kondisi ini memicu kepanikan di lingkungan sekolah dan tenaga pendidik.
Pihak sekolah dan guru mengambil langkah cepat dengan memberikan penanganan darurat.
Selanjutnya, 28 siswa yang diduga mengalami keracunan jajanan telur gulung itu segera dilarikan ke Puskesmas Rajamandala untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut.
Kasus keracunan massal yang melibatkan anak-anak sekolah ini langsung menarik perhatian aparat penegak hukum. Polda Jawa Barat dikabarkan telah turun tangan untuk melakukan penyelidikan mendalam.
Fokus utama penyelidikan saat ini adalah mengidentifikasi penyebab pasti dari insiden yang menimpa 28 siswa SD Bandung Barat tersebut. Sampel makanan yang diduga menjadi pemicu keracunan telah diamankan oleh tim investigasi.
Sampel makanan, berupa telur gulung atau telur goreng yang dibeli oleh siswa, sudah dibawa ke laboratorium. Uji laboratorium ini krusial untuk memastikan adanya kontaminasi bakteri, zat kimia, atau faktor lain yang menyebabkan gejala keracunan.
Pihak kepolisian menyatakan masih menunggu hasil uji lab untuk mendapatkan konfirmasi ilmiah. Penyelidikan juga akan melibatkan pemeriksaan terhadap pedagang dan rantai pasok bahan baku makanan tersebut.
Keracunan makanan di lingkungan sekolah bukan kali pertama terjadi di wilayah Bandung Barat. Meskipun kejadian sebelumnya sempat dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan siswa, insiden kali ini diduga kuat berasal dari jajanan tradisional yang dijual pedagang di luar program.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak terkait, terutama Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan setempat.
Pengawasan terhadap higienitas dan keamanan pangan di sekitar lingkungan sekolah wajib diperketat.
Orang tua dan pihak sekolah diimbau untuk lebih proaktif dalam memantau jajanan yang dikonsumsi anak-anak. Penting untuk selalu memastikan kebersihan makanan yang dibeli demi mencegah terulangnya kasus keracunan telur gulung atau jajanan sejenis.
Penanganan medis terhadap 28 siswa SD Bandung Barat di Puskesmas Rajamandala berlangsung intensif. Para korban mendapatkan perawatan optimal untuk meredakan gejala mual dan muntah yang mereka alami.
Diharapkan, dengan penanganan cepat, kondisi para siswa dapat segera pulih. Sementara itu, Polda Jawa Barat berkomitmen akan menuntaskan penyelidikan untuk mengungkap siapa yang bertanggung jawab atas potensi kelalaian dalam kasus keracunan ini.






