PT Cibitung Tanjung Priok Port (CTP) Tollways mengungkap trafik Jalan Tol Cibitung–Cilincing (JTCC) masih sangat rendah dan jauh di bawah target bisnis. Pengelola menuding disparitas tarif yang tinggi menjadi biang kerok, membuat ruas JORR 2 ini hanya menjadi ‘jalur pelarian’ saat Tol Jakarta–Cikampek (Japek) macet.
Direktur Utama CTP Tollways, Yaya Ruhiya, mengakui JTCC belum menjadi pilihan utama, terutama bagi kendaraan logistik yang menjadi sasaran utamanya. “Jujur saja, kendaraan yang lewat JTCC sekarang kebanyakan adalah mereka yang lari ke sini saat Tol Jakarta–Cikampek macet,” kata Yaya saat kunjungan media di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/11/2025).
Yaya memaparkan volume tertimbang JTCC hanya 8.500-8.700 kendaraan per hari, padahal target BPJT mencapai 34.000-35.000 kendaraan. Trafik hanya melonjak saat Japek lumpuh, seperti saat kecelakaan truk ikan pada 2023 yang menaikkan volume harian JTCC menjadi 12.000 kendaraan.
Disparitas tarif ini, menurut Yaya, menciptakan ironi besar dalam cetak biru infrastruktur logistik nasional yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2022. Kegagalan JTCC menarik trafik logistik membuat tujuan utama JORR 2 untuk memecah kemacetan dari dalam kota ke lingkar luar menjadi tidak tercapai, menempatkan investasi triliunan rupiah dalam posisi sulit, katanya.
CTP Tollways kini menilai strategi integrasi tarif menjadi satu-satunya solusi agar JTCC bisa menjadi pilihan utama, bukan sekadar alternatif. “Kami berharap ada integrasi untuk menghilangkan disparitas tarif. Jadi orang mau lewat Tol Jakarta-Cikampek atau JTCC tarifnya relatif sama,” kata dia.
Usulan integrasi tarif ini telah disampaikan CTP Tollways kepada pemerintah dan masih dalam tahap pembahasan, menjadi pertaruhan nasib JORR 2. Kegagalan JTCC akibat disparitas tarif ini menjadi preseden buruk, membuktikan bahwa infrastruktur megah sekalipun akan gagal fungsi jika tidak didukung skema harga yang kompetitif dan terintegrasi dengan jaringan tol eksisting.






