Upaya pemulihan infrastruktur pascabencana di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, terus menunjukkan perkembangan. Salah satu proyek yang tengah dipercepat adalah pemasangan Jembatan Bailey Teodhae 1 di Kecamatan Mauponggo. Pembangunan jembatan darurat ini menjadi solusi utama setelah jalur Sawu terputus akibat amblasnya badan jalan.
Data terakhir menunjukkan progres pekerjaan telah mencapai 50,85 persen. Tahapan yang sudah berlangsung meliputi perakitan rangka baja, pembangunan pondasi bronjong kawat galvanis, hingga persiapan gelagar dan dek jembatan.
Di lokasi pekerjaan, aktivitas terlihat padat dengan keterlibatan tenaga kerja lapangan, alat berat, serta dukungan teknis dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT dan personel TNI Kodam IX/Udayana.
Pemasangan jembatan sepanjang 60 meter ini dikerjakan oleh 13 pekerja yang terbagi dalam beberapa tim. Foto yang diabadikan memperlihatkan para pekerja tengah menyusun rangka baja di atas aliran sungai berbatu dengan latar belakang perbukitan hijau.
Kehadiran excavator di sisi kiri serta kendaraan pengangkut material menandakan proses pembangunan dilakukan secara paralel untuk mempercepat target penyelesaian.
Selain fokus pada Jembatan Teodhae 1, pemerintah juga menyiapkan pembangunan Jembatan Bailey Teodhae 2 dengan panjang 30 meter yang dikerjakan Kodam IX/Udayana. Beberapa titik lain juga masuk dalam program penanganan darurat, seperti Jembatan Jero yang progresnya baru mencapai 15,98 persen, duiker Kelewae 18,52 persen, serta dua duiker di Lajawajo 1 dan 2 yang masing-masing sudah 10,26 persen dan 16,48 persen.
Pemerintah menargetkan Jembatan Bailey Teodhae 1 selesai pada 4 Oktober 2025. Dengan rampungnya jembatan ini, akses masyarakat yang sebelumnya terhambat diharapkan kembali normal sehingga arus barang, jasa, serta kebutuhan pokok dapat kembali lancar. Selain memulihkan konektivitas antarwilayah, kehadiran jembatan darurat juga memberi jaminan mobilitas yang lebih aman bagi warga sekitar.






