Fenomena di media sosial terus bergerak cepat. Saat ini, salah satu isu paling ramai di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts adalah munculnya konten yang menampilkan gaya hidup mewah atau yang dikenal sebagai fenomena ngaku sultan TikTok. Konten ini merentang dari pamer mobil sport, koleksi branded, hingga perjalanan ke luar negeri. Ironisnya, banyak dari konten “sultan” ini belakangan terbukti fiktif atau hanya sewa properti demi konten.
Mengapa tren “sultan-sultanan” ini begitu masif di Indonesia? Apa dampak psikologisnya, terutama bagi kreator dan penonton Gen Z? Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa fenomena ngaku sultan TikTok menjadi candu dan celah yang mengkhawatirkan di ruang digital kita.
Menganalisis Daya Tarik Konten Flexing
Konten yang menampilkan kekayaan—atau flexing—memiliki daya tarik magnetis yang sulit dihindari. Namun, rasa penasaran publik seringkali didorong oleh dua hal yang bertolak belakang: kekaguman dan kecurigaan.
1. Ilusi Kehidupan yang Ideal (Aspirational Content)
Bagi sebagian besar penonton, konten “sultan” adalah escapism (pelarian). Mereka menawarkan sekilas pandangan ke kehidupan yang didambakan, penuh kemudahan dan kemewahan. Konten ini memicu imajinasi dan harapan, membuatnya sangat shareable. Selain itu, algoritma platform cenderung memprioritaskan konten dengan interaksi tinggi seperti ini.
2. Efek “No Viral, No Justice” versi Kekayaan
Di media sosial, validitas dan perhatian seringkali setara dengan nilai. Semakin viral seseorang, semakin banyak peluang yang terbuka, baik itu endorsement maupun pengakuan. Oleh karena itu, banyak kreator merasa terdorong untuk menciptakan ilusi kekayaan. Mereka percaya bahwa untuk “dianggap” sukses dan relevan, mereka harus menunjukkan simbol-simbol kemewahan. Ini adalah dorongan yang kuat di balik fenomena ngaku sultan TikTok.
Dampak Negatif pada Kesehatan Mental dan Etika Digital
Popularitas konten flexing sayangnya membawa konsekuensi yang serius, terutama bagi generasi muda yang sedang mencari jati diri.
1. Tekanan untuk Tampil Kaya (Flexing Pressure)
Ketika linimasa dipenuhi orang-orang yang “sukses” di usia muda, timbul tekanan sosial yang intens. Penonton, terutama Gen Z, sering merasa hidupnya kurang berharga jika tidak mengikuti standar kemewahan tersebut. Misalnya, kebutuhan untuk liburan mahal atau memiliki gadget terbaru menjadi tuntutan, bukan lagi pilihan.
2. Disrupsi Etika Kerja dan Realitas
Konten ngaku sultan seringkali menampilkan kekayaan yang didapat secara instan atau tanpa proses kerja keras yang terlihat. Hal ini menciptakan disrupsi pada etika kerja, di mana penonton mulai meragukan pentingnya pendidikan formal atau karir yang stabil. Akibatnya, banyak yang mencari jalan pintas atau terjebak dalam skema cepat kaya.
3. Risiko Finansial bagi Kreator Fiktif
Bagi kreator yang memalsukan kekayaan, ada risiko finansial yang besar. Mereka harus mengeluarkan uang untuk sewa properti mewah atau barang mahal, yang tujuannya hanya untuk konten. Sementara itu, jika kebohongan mereka terbongkar, reputasi dan kredibilitas mereka hancur total di mata publik.
Peran Literasi Digital dalam Menyikapi Fenomena Ngaku Sultan TikTok
Menyikapi tren ini, literasi digital menjadi kunci utama. Kita tidak bisa menghapus konten flexing, namun kita bisa mengubah cara kita meresponsnya.
- Jadikan Kekayaan sebagai Inspirasi, Bukan Perbandingan: Ingatlah bahwa media sosial adalah highlight reel, bukan kehidupan utuh.
- Fokus pada Proses, Bukan Hasil: Dukunglah kreator yang transparan tentang struggle dan proses mereka, bukan hanya hasil akhirnya.
- Praktekkan Digital Detox: Jika merasa tertekan melihat konten mewah, ambillah jeda dari media sosial. Di sisi lain, fokuskan energi pada pencapaian pribadi yang nyata.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pendidik untuk mengajarkan bahwa kesuksesan sejati diukur dari nilai dan integritas, bukan dari harga barang yang dipamerkan di kamera. Dengan demikian, kita bisa meredam dampak negatif fenomena ngaku sultan TikTok ini dan membangun ruang digital yang lebih sehat.






