BERITAMOBILE.COM – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi yang berlaku mulai hari ini, 1 Oktober 2025, menuai kritik keras dari masyarakat dan pengamat energi. PT Pertamina (Persero) dinilai terlalu mepet dan minim sosialisasi dalam mengumumkan penyesuaian harga, yang membuat banyak SPBU kebanjiran antrean pada malam pergantian hari.
Penyesuaian harga terjadi pada jenis BBM non-subsidi, seperti Pertamax dan Dexlite, dengan rata-rata kenaikan antara Rp 200 hingga Rp 800 per liter, tergantung jenis dan wilayah. Pengumuman resmi kenaikan baru dirilis Pertamina pada pukul 23:00 WIB tadi malam, hanya satu jam sebelum kebijakan tersebut resmi berlaku.
Jebakan Tengah Malam: Minim Sosialisasi Picu Keresahan
Keputusan Pertamina yang mengumumkan kenaikan harga pada larut malam dianggap sebagai “jebakan tengah malam” yang tidak profesional dan menimbulkan keresahan publik. Foto dan video antrean panjang kendaraan di SPBU, terutama yang menjual Pertamax, dengan cepat viral di media sosial sejak semalam.
Ekonom energi dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), Dr. Faisol Harahap, menyayangkan cara komunikasi publik Pertamina.
“Kenaikan harga, sekecil apapun, selalu sensitif. Seharusnya Pertamina belajar dari pengalaman. Mereka harus memberikan jeda waktu yang memadai, minimal 1×24 jam, agar masyarakat dan pelaku usaha sempat menyesuaikan. Pengumuman mendadak ini justru menimbulkan spekulasi dan panic buying kecil-kecilan,” ujar Dr. Faisol saat dihubungi BERITAMOBILE.COM.
Ia menambahkan, keterlambatan pengumuman ini menunjukkan kurangnya transparansi Pertamina dalam mengelola kebijakan harga yang sangat memengaruhi inflasi dan biaya logistik nasional.
Respons Pertamina dan Alasan Penyesuaian
Menanggapi kritik tersebut, Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadli Rahman, membantah adanya unsur kesengajaan dalam penundaan pengumuman.
“Penyesuaian harga ini murni didasarkan pada perhitungan harga minyak mentah dunia (ICP) dan nilai tukar Rupiah yang fluktuatif selama sebulan terakhir. Kami melakukan koordinasi internal hingga menit terakhir untuk memastikan harga yang ditetapkan adalah yang paling optimal dan kompetitif,” jelas Fadli.
Fadli menekankan bahwa harga BBM non-subsidi bersifat fluktuatif dan ditinjau setiap bulan. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembelian berlebihan karena pasokan diyakini aman. “Kenaikan harga ini penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan dan investasi di sektor energi,” tutupnya.
Namun, netizen tetap mempertanyakan efisiensi operasional Pertamina. Mereka menuntut BUMN energi tersebut untuk tidak selalu membebankan fluktuasi harga minyak dunia kepada konsumen tanpa menunjukkan perbaikan manajemen yang signifikan.






