CEO BMW Oliver Zipse mendesak Uni Eropa (EU) untuk mempertimbangkan kembali larangan penjualan mobil baru bermesin pembakaran internal (ICE) pada 2035. Zipse memperingatkan, aturan kontroversial ini mengancam puluhan ribu pekerjaan di Jerman dan bertentangan dengan manfaat konsumen.
BMW tidak hanya menentang larangan mesin bensin, tetapi juga meminta EU mengubah cara penghitungan emisi CO2 yang hanya didasarkan pada knalpot. “Jika saya menggunakan baja ‘hijau’, saya ingin itu dihitung dalam peringkat CO2 saya,” tegas Zipse, menyebut metode saat ini “benar-benar usang” karena mengabaikan seluruh rantai nilai produksi.
Zipse menyebut hampir 50.000 pekerjaan di Jerman telah hilang tahun ini, yang kemungkinan terkait dengan regulasi baru yang membebani industri otomotif. Deutsche Welle juga sebelumnya memperingatkan jumlah total kehilangan pekerjaan di sektor otomotif Eropa dapat mencapai 51.500 pada tahun 2025.
Upaya BMW meningkatkan penggunaan bahan daur ulang (seperti aluminium daur ulang dan jaring ikan) pada model seperti BMW iX3 menjadi sia-sia jika aturan EU hanya fokus pada emisi knalpot. Pendekatan holistik BMW ini, menurut analis, menunjukkan bahwa transisi karbon rendah membutuhkan insentif yang menghargai upaya produsen menggunakan bahan berkelanjutan dalam proses perakitan, katanya.
Selain mengubah perhitungan CO2, BMW juga mendorong pengembangan bahan bakar berkelanjutan seperti HVO100 (pengganti diesel) dan eFuel yang memiliki emisi karbon jauh lebih rendah. BMW juga mempercepat investasi pada teknologi hidrogen dan berencana meluncurkan model sel bahan bakar pertamanya (berbasis X5) pada 2028.
Desakan BMW ini menjadi kritik tajam terhadap pendekatan EU yang dinilai terlalu membebani larangan, alih-alih memberi solusi komprehensif yang menjaga daya saing industri Eropa. Pendekatan Zipse menuntut Uni Eropa untuk bersikap lebih fleksibel, mengakui bahwa teknologi seperti hidrogen dan eFuel adalah solusi vital untuk memenuhi target iklim tanpa mematikan basis manufaktur.






