ASMAT – Situasi di Asmat Papua Selatan, dilaporkan memanas dan berujung pada amukan massa setelah insiden penembakan yang melibatkan aparat. Peristiwa ini memicu penjarahan dan pembakaran pos Satgas oleh warga yang emosi. Kegentingan ini sontak menjadi sorotan nasional. Menanggapi eskalasi kekerasan, tokoh adat setempat, Damianus Katayu, secara terbuka mendesak baik aparat keamanan maupun warga untuk menahan diri demi mencegah konflik meluas.
Kronologi dan Amukan Massa yang Terekam Media Sosial
Ketegangan dimulai dari sebuah insiden di salah satu distrik Asmat, di mana terjadi penembakan yang diduga dilakukan oleh oknum aparat saat berhadapan dengan sekelompok warga. Detail pasti insiden tersebut masih diselidiki, namun dampaknya langsung memicu reaksi keras dari masyarakat.
Video yang diunggah oleh berbagai pihak memperlihatkan sekelompok massa yang marah, melakukan pembakaran sebuah pos Satuan Tugas (Satgas) dan aksi penjarahan di beberapa kios. Situasi ini menunjukkan ketidakpercayaan yang mendalam antara warga lokal dan aparat keamanan, yang seringkali dipicu oleh gesekan kecil di lapangan.
Kondisi ini mengharuskan aparat kepolisian dan TNI untuk melakukan penyekatan dan meningkatkan status keamanan. Meskipun korban jiwa belum dilaporkan secara masif, trauma kolektif akibat kekerasan telah dirasakan oleh sebagian besar warga, khususnya anak-anak dan perempuan yang terpaksa mengungsi.
Imbauan Tokoh Adat, “Jangan Ada Tembakan Lagi!”
Melihat situasi yang nyaris tak terkendali, Damianus Katayu, salah satu tokoh adat dan perwakilan masyarakat Asmat Papua Selatan, mengambil peran penting sebagai penengah. Melalui pernyataan pers, Katayu menyampaikan seruan yang sangat mendesak kepada semua pihak.
“Kami, para tokoh adat, mengimbau dengan keras: Jangan ada tembakan lagi! Kami minta semua, baik itu masyarakat maupun aparat TNI/Polri, untuk tidak mengeluarkan tembakan, menahan emosi, dan duduk bersama,” tegas Katayu dalam keterangannya di Merauke.
Peran Sentral Tokoh Adat dan Upaya Mediasi:
- Prioritas Merah Peredaman Emosi: Katayu menekankan bahwa peran tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat adalah kunci utama saat ini. Mereka terus bergerak di tengah-tengah warga dan aparat untuk meredam emosi dan menghindari eskalasi kekerasan lebih lanjut.
- Permintaan Keadilan dan Transparansi: Selain menuntut penghentian kekerasan, masyarakat adat juga mendesak agar insiden penembakan ini diusut tuntas secara transparan dan adil. Mereka menuntut oknum yang bertanggung jawab dipecat dan diproses secara hukum.
- Memulihkan Kondisi: Upaya mediasi ini juga bertujuan untuk memfasilitasi pengembalian warga yang mengungsi dan memulai pemulihan ekonomi di pasar yang sempat terhenti akibat penjarahan.
Hingga saat ini, upaya mediasi masih terus dilakukan. Harapannya, kearifan lokal melalui peran tokoh adat dapat menjadi jembatan perdamaian untuk memulihkan Asmat dari konflik yang dipicu oleh minimnya komunikasi dan kepercayaan antar pihak.






