Berlari di suhu rendah musim dingin ternyata lebih efektif membakar energi dan meningkatkan kesehatan mental, menurut bukti ilmiah terbaru. Sains menunjukkan cuaca dingin (8-18 derajat Celcius) memaksa tubuh untuk bekerja lebih keras, menjadikannya kondisi yang ideal untuk performa lari.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di Pub Medicine Central mengungkap tubuh membakar lebih banyak kalori hanya untuk mempertahankan suhu inti 37°C. Paparan dingin juga mengaktifkan Jaringan Lemak Cokelat (BAT), jenis lemak “baik” yang secara efektif membakar kalori demi menghasilkan panas.
Selain fisik, otak juga mendapat manfaat dari udara dingin dan cahaya alami pagi hari, yang dapat melawan kondisi winter blues. Lari musim dingin terbukti meningkatkan produksi hormon serotonin (relaksasi) dan mengatur melatonin, yang menghasilkan kualitas tidur lebih baik di malam hari.
Pentingnya lari musim dingin ini, menurut para ahli kedokteran olahraga, terletak pada efisiensi termal tubuh yang tidak terbebani panas dan kelembapan. Pelari dapat mempertahankan kecepatan lebih lama dengan detak jantung yang stabil, menjadikannya waktu terbaik untuk latihan intensitas tinggi dan mencetak rekor pribadi, katanya.
Para pelari diimbau untuk memperhatikan kostum dengan menerapkan aturan berlapis “gaya bawang” (onion style), menghindari pakaian terlalu tebal yang memicu keringat dingin. Prioritas harus diberikan pada penutup kepala, sarung tangan tipis, dan kaos kaki tebal, karena panas tubuh banyak hilang melalui ekstremitas.
Mundo Deportivo menyimpulkan bahwa suhu 8-18 derajat Celcius adalah level ideal untuk kinerja jogging, yang menjadi alasan banyak maraton besar digelar di kondisi serupa. “Jangan takut pada dingin 8-18 derajat Celcius. Anggap saja sebagai guru gratis – tegas tapi adil – membantu Anda tetap secara fisik dan mental di bulan-bulan terakhir tahun ini,” tutupnya.






