Nama Nama Korban Robohnya Ponpes Al-Khoziny menjadi perhatian publik setelah musibah ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (29/9/2025). Tragedi ini menyebabkan puluhan santri menjadi korban, baik yang mengalami luka-luka maupun meninggal dunia. Pemerintah dan tim SAR gabungan berupaya keras mengevakuasi seluruh korban, dan proses identifikasi terus dilakukan oleh Tim DVI (Disaster Victim Identification) Polda Jatim.
Korban Jiwa yang Sudah Teridentifikasi
Hingga saat ini, proses identifikasi terhadap para korban meninggal masih berlangsung. Namun, beberapa korban telah berhasil teridentifikasi oleh pihak berwenang. Ini adalah nama nama korban robohnya Ponpes Al-Khoziny yang meninggal dunia dan identitasnya telah dirilis ke publik:
- Maulana Alfian Ibrahim (13 tahun), warga Kali Anyar Kulon, Surabaya
- Mochammad Mashudulhaq (14 tahun), warga Kali Kendal, Dukuh Pakis, Surabaya
- Muhammad Soleh (22 tahun), warga Bangka Belitung
- Rafi Catur Okta Mulya Pamungkas (17 tahun), warga Putat Jaya, Surabaya
- Mochammad Agus Ubaidillah (14 tahun), warga Kelurahan Morokrembangan, Surabaya
Kelima nama tersebut menjadi bagian dari total korban jiwa yang terus bertambah seiring berlanjutnya proses evakuasi di bawah reruntuhan. Kendala dalam identifikasi seringkali muncul karena kondisi korban atau minimnya data pembanding, sehingga beberapa jenazah lain masih dalam tahap identifikasi di RS Bhayangkara Surabaya.
Kisah Pilu dan Harapan Korban Selamat
Selain korban meninggal, banyak santri yang berhasil diselamatkan, meskipun sebagian harus mengalami luka berat. Beberapa santri yang selamat dan menarik perhatian publik dengan kisah perjuangan mereka antara lain:
- Syaiful Rosi Abdillah (13 tahun), asal Bangkalan. Rosi menjadi korban terakhir yang dievakuasi hidup-hidup setelah bertahan selama tiga hari di bawah puing tanpa makanan dan minuman. Ia harus merelakan kakinya diamputasi akibat luka parah karena tertimpa material.
- Syahlendra Haical (13 tahun) atau Haikal, yang sempat terjebak dua hari dan suaranya terekam saat berkomunikasi dengan petugas rescue. Haikal sempat mengajak temannya salat, namun nahas temannya meninggal tepat di sebelahnya.
- Al Fatih Cakra Buana (14 tahun), yang selamat karena terlindungi tumpukan pasir dan lembaran seng. Ia sempat mengira dirinya tertidur selama tiga hari.
Beberapa korban luka berat lain yang sempat mendapatkan penanganan medis, termasuk mereka yang mengalami amputasi di bawah reruntuhan, adalah Nur Ahmad (19 tahun) yang harus merelakan tangannya.
Nama nama korban robohnya Ponpes Al-Khoziny yang mengalami luka-luka dan dirawat di rumah sakit juga cukup banyak, seperti:
- Mudhar Zahid
- Salman
- Felyx
- Nur Fuadi Solikin
- M. Ridwan
- Fahri Husaini
- M. Ali Zainal Abidin
Total korban yang berhasil dievakuasi terus bertambah, terdiri dari korban meninggal dan korban selamat. Tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, pengelola pondok, dan seluruh masyarakat.
Pentingnya Identifikasi Korban dalam Bencana
Proses DVI sangat krusial dalam musibah ini. Akurasi identitas penting bagi keluarga korban untuk mendapatkan kepastian. Kesulitan sering dialami Tim DVI karena korban yang sebagian besar adalah remaja, sehingga data sidik jari atau struktur gigi cenderung seragam atau tidak mudah untuk dicocokkan. Oleh karena itu, bantuan keluarga dengan memberikan data sekunder seperti rekam medis gigi atau foto terakhir sangatlah dibutuhkan.
Upaya Pemerintah dan Kepedulian Masyarakat
Pemerintah melalui tim SAR gabungan (Basarnas, BPBD, TNI, Polri, dan relawan) telah mengerahkan segala daya untuk mengevakuasi korban. Selain fokus pada pencarian korban, dukungan psikologis dan medis juga diberikan kepada para santri yang selamat dan keluarga korban.
Meskipun pencarian telah memasuki hari-hari krusial, upaya untuk menemukan dan mengidentifikasi seluruh nama nama korban robohnya Ponpes Al-Khoziny yang masih tertimbun terus dilakukan dengan harapan memberikan kejelasan dan ketenangan bagi keluarga yang menunggu.






